Sebenarnya aku tidak ingin semuanya
berakhir begitu cepat. Aku masih ingin merasakan hangatnya ketika dipanggil
sayang, manisnya ketika dirangkul, manjanya ketika poni diacak-acak, dan
berbagai kegiatan lainnya yang tidak bisa kusebut satu-persatu. Aku rindu
masa-masa dimana kau memberikan perhatian-perhatian kecil yang menjelma menjadi
rindu yang menggetarkan hatiku dengan luar biasa. Saat kau memanggilku dengan
sebutan lucumu itu. Saat kau selalu ada disaat aku benar-benar membutuhkanmu. Dengan
rajinnya kau selalu hadir ditelepon genggamku. Begitu sigapnya kau meminjamkan
pundakmu saat kumengeluh dengan keadaan. Tetapi semua tradisi itu menghilang
kemudian lenyap tak berbekas. Kini, kita telah berjarak.
Prediksiku salah. Bukankah ini
manusiawi? Tidak pernah kupungkiri bahwa perpisahan harus terjadi. Ingat tidak?
Ketika pagi siapa yang menyapamu dengan hangatnya? Siapa yang memerintahkanmu
untuk makan? Siapa yang memberikanmu
semangat ketika kau lelah dengan keadaan? Saat siang, siapa yang mengingatkanmu
untuk sekadar beristirahat? Menjelang sore, siapa yang dengan tulusnya
mendengar keluhan-keluhan kamu yang kau alami seharian? Malam tiba, suara serak siapa yang kau dengar
ketika kau sedang kesepian? Dan aku rindu itu semua. Rindu melakukan hal-hal
manis itu, tetapi keadaan yang menolaknya.
Suara serakmu, tawa lugumu, candaan
khasmu dan segala hal yang membuat otakku penuh karenamu. Aku benci saat-saat
ini. Perasaanku mati untuk merasakan bahagia. Aku mencoba untuk (terpaksa)
tegar. Memang terkadang aku tak menggubris perhatian kecilmu itu. Bukan
menolak, hanya saja aku sedang menjarakkan diriku denganmu. Semua kenangan itu
menjadi abadi dikehidupanku. Tak bisa lepas, tak bisa dilupakan. Sampai disini
kisah kita. Semua sudah berakhir. Terimakasih kau pernah membuat aku menjadi
orang yang paling bahagia dengan memilikimu, menjadi orang yang pencemburu, dan
selalu merindu. Kini beranjak menuju bulan februari. Bulan penuh kasih sayang. Selamat
tanggal 14, selamat hari kasih sayang, dan ingatlah setiap moment diantara
kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar