Aku selalu mengira tak kan bisa hidup tanpa cintamu. Sejak
kutahu kau dengannya perasaanku mati untuk merasakan bahagia. Sesederhana itu
perasaanku yang sudah kau nodai. Tak kupungkiri perpisahan harus terjadi. Berat
memang untuk pertemuan awal yang jauh lebih indah yang pasti akan memunculkan
perasaan bahagia lagi. Bahkan hubungan yang sempurna pun dapat berakhir. Aku ingin bahagia. Dan jika bahagia aku harus
melupakanmu, tidak mencari tahu kabarmu, tidak memperhatikanmu lagi, melupakan
bayangmu, membuang dan menghapus itu semua dari memori otakku. Banyak orang
yang bilang bahwa jika kita menghadapi masalah, hadapi dan jangan lari. Karena
kalau kita lari, masalah tidak akan pernah selesai. Tapi kali ini aku tidak peduli.
Aku hanya ingin menjauh.
Kamu rajin
menghampiriku, ingin memberikan sebuah kejelasan. Dan tidak sengaja kita
dipertemukan. Melihat kamu, mengingat apa yang sudah pernah kami jalani selama
beberapa bulan ini, hatiku seperti tergores pisau, perih, dan pedih. Rasanya
aku ingin berdiri, menghampirimu, memelukmu dan memintamu berjanji bahwa
segalanya akan baik-baik saja, bahwa yang terjadi hanyalah ilusi semata. Tapi,
detik itu juga aku tersadar, aku tidak bisa hidup dalam harapan dan
angan-angan. Kamu adalah yang mengkhianatiku. Bukan kamu yang aku kenal dan
jelas bukan kamu yang layak aku berikan kesempatan kedua.
But, I really miss
him. Aku tidak tahu mana yang lebih kuat,
rasa rindu atau amarah. Jadi kurasa, lebih aman untukku menjauh. Tiap kali aku
mengingat namanya, mengingat apa yang telah dia perbuat, membuat seluruh
tubuhku dipenuhi rasa amarah. Yeah,
everything always reminds me of him.
Aku merasakan air mata mengalir perlahan tanpa bisa kutahan. How can I move on when I’m still in love
with him? Sebenarnya aku tidak perlu apa-apa. Aku cuman butuh kesetiaan
kamu dan kamu tidak punya itu. Padahal kamu tahu masalah kepercayaan itu isu
mahapenting buatku. Seandainya saja mematikan perasaan semudah mematikan
sambungan telepon, hidupku pasti akan jauh lebih mudah.
Aku lupa, semua luka perlahan-perlahan akan sembuh juga.
Biarkan saja waktu yang jadi obatnya. Saat itu akan tiba, ketika aku
benar-benar menerima kenyataan bahwa kini tak ada lagi kita. Aku bisa hidup
tanpa kenangan dan senyumanmu. Kalau sebelum mengenalmu saja aku bisa bahagia,
apa bedanya bahagia setelah tanpa kamu? Aku pasti jatuh cinta lagi. Suatu hari
nanti….dan dengan yang lebih baik darimu.
Dan yang paling penting, dia datang saat aku tidak tahu
harus mencari kemana. Dia yang menghiburku, pengobat lukaku. Seseorang yang
berbeda, yang selalu meramaikan suasana ponselku. Seeorang yang selalu ada
disaat aku jenuh dengan keadaan. Kamu mengubah duniaku. Aku yakin seratus sepuluh
persen ada maksud dibalik perlakuanmu kepadaku. Kamu membuat semua persepsiku
jungkir balik. Tanpa komitmen yang terucap, aku merasa seperti telur diujung
tanduk. Bisa sewaktu-waktu jatuh dan hancur berkepng-keping. Kamu bisa pergi
begitu saja tanpa harus khawatir karena kamu tidak punya ikatan apa pun denganku
atau kepada our so-called-relantionship.
Aku masih bingung mau mendeskripsikan seperti apa hubunganku dengan kamu. Yah,
kita lihat aja mau ke mana arahnya nanti. Walaupun aku sudah cukup yakin dengan
perasaanmu kepadaku dengan melihat apa yang kamu lakukan selama ini. Aku hanya
ingin semuanya berjalan pelan-pelan. Aku kan bukan mengenal kamu dari kecil,
banyak hal yang masih harus jadi pertimbangan.
Kamu pernah bilang “Karena aku tahu kamu berbeda. Aku ingin
semuanya pelan-pelan. Kamu perlu waktu untuk menyelesaikan masalah hatimu
dengannya. Aku janji suatu saat kita bisa lebih dari ini, lebih dalam lagi”.
Aku yang dengan polosnya berkata “Meskipun kamu sudah jauh melampaui
ekspektasiku, tapi aku tidak bisa”. Mendengar jawabanku, kamu menatapku penuh
tanda tanya. “Kamu yakin?” Aku terdiam. “Kamu yakin ini yang kamu mau? Kamu
yakin?” Aku mengangguk. Wajah kamu tampak sangat terpukul. Kamu menunduk
menahan emosi yang hendak membuncah keluar. Beberapa detik kemudian, kamu
mengangkat kembali wajahmu dan berkata dengan nada suara yang paling dingin
“Oke, kalau itu mau kamu”. Aku bukan tipe perempuan yang mudah percaya dengan statement yang berlalu biarlah berlalu.
Aku masih menghargainya, seseorang yang mengkhianatiku.
Aku pikir saat menemukan kenyataan bahwa dia selingkuh, aku
tidak akan bisa merasa lebih sedih lagi. Tapi faktanya adalah, yang namanya
sakit hati sesering apa pun aku mengalami, rasanya sama sekali tidak enak. Sama
sekali tidak enak. Dan pada akhirnya, kita menangis karena menyadari bahwa
waktu berlalu dengan begitu cepat tanpa kita sempat memperbaiki keadaan, dan
hal berikutnya yang kita ketahui kita kehilangan orang yang benar-benar kita
cintai. Ya Tuhan, apa aku salah mengambil keputusan tentang dia? Belakangan ini
aku jadi berpikir ulang. Apa sih yang aku harapkan dari pasanganku? Apakah
kalau aku menemukan orang yang sesuai kriteriaku, lalu semerta-merta aku akan
hidup happily ever after? Aku seperti
dihantam kesadaran luar biasa. Dari enam milyar orang didunia ini, begitu
banyak laki-laki dan perempuan. Begitu banyak cerita cinta yang bertepuk
sebelah tangan. Aku menyukainya, tapi ia menyukai orang lain. Atau sebaliknya,
ia menyukaiku tapi aku menyukai orang lain. Dan bukankah suatu keberuntungan
luar biasa ketika kita menemukan orang yang kita sayang menyayangi kita?
Menemukan orang yang kita sukai dan dia juga menyukai kita? Keputusanku salah.
Kalau benar, tidak mungkin hati dan otakku menyalahkanku seperti ini.
Aku minta maaf buat semuanya. Aku memang keras kepala. Aku bodoh dan
irasional. Tiap orang kan ada masa-masa menjadi bodoh dan bebal dan irasional,
but I’m lucky enough to find you…seseorang
yang jauh lebih baik darinya. Aku bahagia dengan keadaanku yang sekarang.
Bersamamu seseorang yang baru yang berhasil mengubah duniaku. Iya kamu,
pengobat luka hatiku….