Senin, 17 Februari 2014

Selamat Tanggal Empat Belas


Sebenarnya aku tidak ingin semuanya berakhir begitu cepat. Aku masih ingin merasakan hangatnya ketika dipanggil sayang, manisnya ketika dirangkul, manjanya ketika poni diacak-acak, dan berbagai kegiatan lainnya yang tidak bisa kusebut satu-persatu. Aku rindu masa-masa dimana kau memberikan perhatian-perhatian kecil yang menjelma menjadi rindu yang menggetarkan hatiku dengan luar biasa. Saat kau memanggilku dengan sebutan lucumu itu. Saat kau selalu ada disaat aku benar-benar membutuhkanmu. Dengan rajinnya kau selalu hadir ditelepon genggamku. Begitu sigapnya kau meminjamkan pundakmu saat kumengeluh dengan keadaan. Tetapi semua tradisi itu menghilang kemudian lenyap tak berbekas. Kini, kita telah berjarak. 
Prediksiku salah. Bukankah ini manusiawi? Tidak pernah kupungkiri bahwa perpisahan harus terjadi. Ingat tidak? Ketika pagi siapa yang menyapamu dengan hangatnya? Siapa yang memerintahkanmu untuk makan?  Siapa yang memberikanmu semangat ketika kau lelah dengan keadaan? Saat siang, siapa yang mengingatkanmu untuk sekadar beristirahat? Menjelang sore, siapa yang dengan tulusnya mendengar keluhan-keluhan kamu yang kau alami seharian?  Malam tiba, suara serak siapa yang kau dengar ketika kau sedang kesepian? Dan aku rindu itu semua. Rindu melakukan hal-hal manis itu, tetapi keadaan yang menolaknya.
Suara serakmu, tawa lugumu, candaan khasmu dan segala hal yang membuat otakku penuh karenamu. Aku benci saat-saat ini. Perasaanku mati untuk merasakan bahagia. Aku mencoba untuk (terpaksa) tegar. Memang terkadang aku tak menggubris perhatian kecilmu itu. Bukan menolak, hanya saja aku sedang menjarakkan diriku denganmu. Semua kenangan itu menjadi abadi dikehidupanku. Tak bisa lepas, tak bisa dilupakan. Sampai disini kisah kita. Semua sudah berakhir. Terimakasih kau pernah membuat aku menjadi orang yang paling bahagia dengan memilikimu, menjadi orang yang pencemburu, dan selalu merindu. Kini beranjak menuju bulan februari. Bulan penuh kasih sayang. Selamat tanggal 14, selamat hari kasih sayang, dan ingatlah setiap moment diantara kita.

Kamis, 13 Februari 2014

Dari Seseorang yang Mencintaimu Dalam Diam

Untukmu, pria pemilik mata sipit berwajah manis beraroma wangi
            Surat ini khusus aku tunjukkan ke alamat hatimu, hati yang selalu dingin sebeku es seolah tak menyadari keberadaanku.  Sampai kapan aku harus berdiam di posisi ini? Berdiam dalam bayanganmu, tak bisa menyentuh lekukan wajahmu, sulit menggapai jemarimu, dan hanya berani menatapmu diam-diam tanpa pengungkapan sedikitpun. Maafkan aku yang sudah lancang menulis ini untukmu. Maaf kalau kejujuranku sedikit mengusik suasana hatimu.
Sebenarnya waktu telah mengarahkanku pada jatuh hati mengagumi sosokmu. Pria pemilik senyum manis oriental. Pria jago main gitar. Pria pengkoleksi film action. Pria yang selalu mondar-mandir dikepalaku, memenuhi otakku, merusak konsentrasiku. Aku tahu segalanya tentangmu. Aku hafal jadwal ekstramu, aku hafal jadwal lesmu, aku tahu kesibukanmu, aku tahu semua kegiatanmu. Aku tahu detail semua tentangmu, tapi tak bisa ku sebutkan satu persatu. Aku yang selalu memperhatikan setiap detik pergerakanmu. Mataku hanya ingin menatapmu. Menyeruak menjerumuskanku untuk selalu mendokumentasikan tingkah lakumu. Memang terkesan berlebihan. Tetapi tenanglah, tak perlu kau risau kini dan nanti. Sebab ini hanya isi yang tersembunyi. Kuyakini kau ini bukanlah basa-basi tapi kau memang kukasihi. Aku tak akan memaksamu untuk membalas perasaanku. Karenanya kumohon jangan paksa aku untuk berhenti mengenali setiap jejakmu. Itu saja. Sudah cukup memberi arti.
Aku memang pengecut. Tak berani mengungkapkan. Hanya membisu dalam diam. Tak mampu mendeskripsikan isi hatiku dengan detail. Lewat perantara surat ini, dimoment spesial penuh kasih sayang. Aku hanya ingin mengucapkan Selamat Hari Kasih Sayang wahai pria sawo matang berwajah menggelitik. Harapan sederhanaku, semoga kau melirikku, menghampiriku kemudian kita dipertemuakan sehingga aku plus kamu sama dengan kita.     

Rabu, 05 Februari 2014

Untukmu, Yang Selalu Ada Disaat Aku Benar-Benar Butuh.


Apa kabar kamu? Apakah kamu kelelahan ketika melewati rentetan tragedi alur yang nyata dalam drama kehidupanmu?  Aku bisa menebak rasa lelahmu, karena kantung matamu terlihat jelas. Raut wajahmu yang semakin mengerut berusaha tersenyum menyembunyikan rasa lelahmu. Berjuang mati-matian demi sesosok jiwa anak manusia. Tapi, aku tahu kamu sosok yang kuat dan hebat, wanita super yang selalu ada dihatiku.
Ingat tidak saat kau memberikan perhatian-perhatian kecil yang menjelma menjadi rindu yang menggetarkan hatiku dengan luar biasa. Saat kau memanggilku dengan sebutan lucumu itu. Saat kau dengan rajinnya meminjamkan pundakmu saat kumengeluh dengan keadaan. Ketika pagi, kau menyapaku dengan hangatnya. Ketika siang, kau sekedar mengingatkanku untuk beristirahat. Ketika sore, kau selalu siap mendengar kicauan-kicauan dariku. Ketika malam, suara lembutmu mengantarkanku menuju dunia mimpi. Sungguh, aku berterima kasih dengan hadirnya dirimu. Tingkah lakumu yang lembut tapi tegas sangat mendidik. Aku menyukaimu, mengagumimu, dan mencintaimu selamanya hingga tak berujung.
            Kita sering berkhayal dan bermimpi bukan? Khayalan yang membuat kita tertawa lepas, berbagi tawa dan bahagia. Banyak kisah-kisah indah yang tak bisa kuekspresikan. Aku pernah membrontak. Aku sering menggelapkan hari-harimu. Terkadang aku mengabaikanmu demi sejuta kesibukanku. Sesekali aku menghiraukan perhatian kecilmu yang tentu akan menyiksamu. Aku tahu dibalik kekhawatiranmu terselip ribuan makna yang salah satunya agar aku menjadi anak hebat. Hebat disegala bidang seperti kamu. Sesederhana itukah perasaan seorang Ibu?
            Aku sudah terlalu banyak menyiksamu, menggubris perhatian kecilmu, dan mengacaukan hari-harimu. Aku hanya bisa mengucap doa. Setiap malam aku menyisipkan namamu ditiap bait doaku. Yang kuinginkan agar kamu selalu bersamaku seberapa nakalnya diriku. Maafkan semua atas tingkah laku kekanak-kanakanku. Sungguh, aku selalu memikirkanmu. Kamu  selalu  ada di kepalaku. Senyummu terus memenuhi labirin-labirin kosong di hatiku. Bayanganmu rajin mengacaukan sel-sel impuls di otakku. Sungguh, aku menyayangimu...

Minggu, 02 Februari 2014

Sekarang Hanya Aku, Minus Dirinya


             Aku selalu mengira tak kan bisa hidup tanpa cintamu. Sejak kutahu kau dengannya perasaanku mati untuk merasakan bahagia. Sesederhana itu perasaanku yang sudah kau nodai. Tak kupungkiri perpisahan harus terjadi. Berat memang untuk pertemuan awal yang jauh lebih indah yang pasti akan memunculkan perasaan bahagia lagi. Bahkan hubungan yang sempurna pun dapat berakhir.  Aku ingin bahagia. Dan jika bahagia aku harus melupakanmu, tidak mencari tahu kabarmu, tidak memperhatikanmu lagi, melupakan bayangmu, membuang dan menghapus itu semua dari memori otakku. Banyak orang yang bilang bahwa jika kita menghadapi masalah, hadapi dan jangan lari. Karena kalau kita lari, masalah tidak akan pernah selesai. Tapi kali ini aku tidak peduli. Aku hanya ingin menjauh.
 Kamu rajin menghampiriku, ingin memberikan sebuah kejelasan. Dan tidak sengaja kita dipertemukan. Melihat kamu, mengingat apa yang sudah pernah kami jalani selama beberapa bulan ini, hatiku seperti tergores pisau, perih, dan pedih. Rasanya aku ingin berdiri, menghampirimu, memelukmu dan memintamu berjanji bahwa segalanya akan baik-baik saja, bahwa yang terjadi hanyalah ilusi semata. Tapi, detik itu juga aku tersadar, aku tidak bisa hidup dalam harapan dan angan-angan. Kamu adalah yang mengkhianatiku. Bukan kamu yang aku kenal dan jelas bukan kamu yang layak aku berikan kesempatan kedua.
But, I really miss him. Aku tidak tahu mana yang lebih kuat, rasa rindu atau amarah. Jadi kurasa, lebih aman untukku menjauh. Tiap kali aku mengingat namanya, mengingat apa yang telah dia perbuat, membuat seluruh tubuhku dipenuhi rasa amarah. Yeah, everything always reminds me of him.  Aku merasakan air mata mengalir perlahan tanpa bisa kutahan. How can I move on when I’m still in love with him? Sebenarnya aku tidak perlu apa-apa. Aku cuman butuh kesetiaan kamu dan kamu tidak punya itu. Padahal kamu tahu masalah kepercayaan itu isu mahapenting buatku. Seandainya saja mematikan perasaan semudah mematikan sambungan telepon, hidupku pasti akan jauh lebih mudah.
Aku lupa, semua luka perlahan-perlahan akan sembuh juga. Biarkan saja waktu yang jadi obatnya. Saat itu akan tiba, ketika aku benar-benar menerima kenyataan bahwa kini tak ada lagi kita. Aku bisa hidup tanpa kenangan dan senyumanmu. Kalau sebelum mengenalmu saja aku bisa bahagia, apa bedanya bahagia setelah tanpa kamu? Aku pasti jatuh cinta lagi. Suatu hari nanti….dan dengan yang lebih baik darimu.
Dan yang paling penting, dia datang saat aku tidak tahu harus mencari kemana. Dia yang menghiburku, pengobat lukaku. Seseorang yang berbeda, yang selalu meramaikan suasana ponselku. Seeorang yang selalu ada disaat aku jenuh dengan keadaan. Kamu mengubah duniaku. Aku yakin seratus sepuluh persen ada maksud dibalik perlakuanmu kepadaku. Kamu membuat semua persepsiku jungkir balik. Tanpa komitmen yang terucap, aku merasa seperti telur diujung tanduk. Bisa sewaktu-waktu jatuh dan hancur berkepng-keping. Kamu bisa pergi begitu saja tanpa harus khawatir karena kamu tidak punya ikatan apa pun denganku atau kepada our so-called-relantionship. Aku masih bingung mau mendeskripsikan seperti apa hubunganku dengan kamu. Yah, kita lihat aja mau ke mana arahnya nanti. Walaupun aku sudah cukup yakin dengan perasaanmu kepadaku dengan melihat apa yang kamu lakukan selama ini. Aku hanya ingin semuanya berjalan pelan-pelan. Aku kan bukan mengenal kamu dari kecil, banyak hal yang masih harus jadi pertimbangan.
Kamu pernah bilang “Karena aku tahu kamu berbeda. Aku ingin semuanya pelan-pelan. Kamu perlu waktu untuk menyelesaikan masalah hatimu dengannya. Aku janji suatu saat kita bisa lebih dari ini, lebih dalam lagi”. Aku yang dengan polosnya berkata “Meskipun kamu sudah jauh melampaui ekspektasiku, tapi aku tidak bisa”. Mendengar jawabanku, kamu menatapku penuh tanda tanya. “Kamu yakin?” Aku terdiam. “Kamu yakin ini yang kamu mau? Kamu yakin?” Aku mengangguk. Wajah kamu tampak sangat terpukul. Kamu menunduk menahan emosi yang hendak membuncah keluar. Beberapa detik kemudian, kamu mengangkat kembali wajahmu dan berkata dengan nada suara yang paling dingin “Oke, kalau itu mau kamu”. Aku bukan tipe perempuan yang mudah percaya dengan statement yang berlalu biarlah berlalu. Aku masih menghargainya, seseorang yang mengkhianatiku.
Aku pikir saat menemukan kenyataan bahwa dia selingkuh, aku tidak akan bisa merasa lebih sedih lagi. Tapi faktanya adalah, yang namanya sakit hati sesering apa pun aku mengalami, rasanya sama sekali tidak enak. Sama sekali tidak enak. Dan pada akhirnya, kita menangis karena menyadari bahwa waktu berlalu dengan begitu cepat tanpa kita sempat memperbaiki keadaan, dan hal berikutnya yang kita ketahui kita kehilangan orang yang benar-benar kita cintai. Ya Tuhan, apa aku salah mengambil keputusan tentang dia? Belakangan ini aku jadi berpikir ulang. Apa sih yang aku harapkan dari pasanganku? Apakah kalau aku menemukan orang yang sesuai kriteriaku, lalu semerta-merta aku akan hidup happily ever after? Aku seperti dihantam kesadaran luar biasa. Dari enam milyar orang didunia ini, begitu banyak laki-laki dan perempuan. Begitu banyak cerita cinta yang bertepuk sebelah tangan. Aku menyukainya, tapi ia menyukai orang lain. Atau sebaliknya, ia menyukaiku tapi aku menyukai orang lain. Dan bukankah suatu keberuntungan luar biasa ketika kita menemukan orang yang kita sayang menyayangi kita? Menemukan orang yang kita sukai dan dia juga menyukai kita? Keputusanku salah. Kalau benar, tidak mungkin hati dan otakku menyalahkanku seperti ini.
 Aku minta maaf buat semuanya. Aku memang keras kepala. Aku bodoh dan irasional. Tiap orang kan ada masa-masa menjadi bodoh dan bebal dan irasional, but I’m lucky enough to find youseseorang yang jauh lebih baik darinya. Aku bahagia dengan keadaanku yang sekarang. Bersamamu seseorang yang baru yang berhasil mengubah duniaku. Iya kamu, pengobat luka hatiku….