Aku tidak mengerti apa yang
kurasakan. Hatiku lelah untuk menebak. Otakku tak sanggup untuk menerjemahkan. Aku
benci saat-saat ini, ketika aku berada diposisi yang sebagian dari mereka
mempermasalahkannya. Mengapa mereka mempeributkan masalah ini?
Aku yang dengan polosnya membalas
perhatian kecil darinya. Berniat untuk menguatkan tali pertemanan. Hanya itu,
tidak lebih. Aku rasa perlakuanku tidak berlebihan. Merespon secara wajar.
Bertindak berdasarkan logika. Semua serba biasa. Tak ada bumbu-bumbu suka
apalagi sayang terlebih lagi cinta. Terjebak oleh keadaan yang jika tidak
menolehnya akan timbul kata-kata tak mengenakan hati. “Sombong kali sih jadi
orang”. Itu segelintir ucapan yang sederhana tetapi mengena. Mau nggak mau
harus dibales dengan resiko yang cukup bikin pusing. Semakin kesini semakin
merespon. Semakin kesini semakin dekat. Namun, tetap patuh pada prinsip awal,
merespon dalam standarisasi pertemanan.
Belakangan ini dia semakin agresif,
tidak terkendali. Perlakuanku yang selalu biasa-biasa saja sudah dianggap
sesuatu yang WOW baginya. Apalagi jika aku merespon seolah-olah aku
menyukainya? Entahlah. Aku selalu mewanti-wanti kalau kita tidak bisa lebih,
aku plus kamu tidak bisa sama dengan kita. Kini, aku mulai risih dengan
keberadaannya. Ingin menggubris tetapi keadaan yang menolaknya. Sungguh, aku
lelah ketika harus berada dijalur ini. Jalur dimana hati tidak mendukung
seratus persen, malah keadaan yang menjadi penguasa. “Aku suka, sayang sama
kamu. Mengapa menolak? Jadi selama ini kamu anggap aku apa? Kamu pantas dapet
julukan PHP” Gerakan spontan pertamaku adalah tertawa sekencang-kencangnya
orang lagi ketawa yang perlahan diam kemudian membisu tanda kebingungan.
Aku tidak tegaan melihat kondisimu.
Perlakuanmu yang selalu menunjukan kau selalu ada untukku. Mati-matian
memperjuangkanku. Aku harus bagaimana? Melakukan hal apa selanjutnya? Tidak tau
harus mengarah kemana, berjalan maju atau mundur. Terkadang ketika berdiam
diposisi, aku benci memiliki sifat yang tidak tegaan. Bukan karena apa, tetapi
berada ditengah-tengah diantara melanjutkan atau mengabaikan membuatku menjadi
beban.
Aku masih belum tau ini sebuah
kesalahan atau bagaimana. Jika kamu merasa dirugikan, aku minta maaf. Jelas
tidak ada maksud untuk menyakiti. Terima kasih untuk kamu yang selalu ada
disaat aku butuh meskipun aku selalu menggubrismu. Untukmu, yang sempat
mengacaukan pikiranku. Aku tidak tau harus bagaimana. Mungkin solusi yang
terbaik, kita harus dipisahkan oleh jarak. Kamu bebas dengan duniamu, tanpa
aku. Semoga rencana hebatmu terancang dengan sempurna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar